Sunday, 21 February 2016

Infinity love

Ma ..
I love u so much.
U r everything.
I have nothing  without u.
From Amalina.

Dear AffnanMumtaz,
I love u.
I'll be loving  u.
Enjoy ur future.
From Mama.

Tuesday, 2 February 2016

Planet Maya

Sharing yg sgt bagus & berkesan kepadaku secara peribadi....

FAMILY FIRST

Suatu hari saya terlanggar dengan seseorang yang tidak saya kenal. “Oh, maafkan saya,” reaksi spontan saya. Dia juga berkata, “maafkan saya juga.” Orang itu dan saya bertegur sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain apabila sampai di rumah. Pada hari itu juga, ketika saya sedang menelefon salah satu rakan sekerja terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun untuk meraih/melobi simpati rakan saya itu, tiba2 anak lelaki saya berdiri diam2 di belakang saya. Ketika saya hendak berpusing,
hampir saja membuatnya jatuh. "Pergi!!! Main sana, ganggu saja!!!" teriak saya dengan marah. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Ketika saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan halus Malaikat berbisik. "Tuhan menyuruh Aku mencabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang. Namun sebelumnya, Tuhan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Akan tetapi dengan anak sendiri, engkau perlakukan kasar, akan ku perlihatkan engkau setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan majikanmu, kawan rapatmu, sahabat dunia mayamu serta keadaan keluargamu".

Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan di dalam group, bahkan ada juga  yang tdk memberi komen apa apa pun atas kepergianku dan ada juga yang hanya menulis, 'Al-Fatihah' ada yg 'RIP'.

Kawan sekerja ku dtg, Sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asyik mengambil gambar dan bercerita. Bahkan ada yg asyik membicarakan aibku sambil tersenyum2. Bos yg aku hormati, hanya datang sebentar melihat jenazahku dalam beberapa minit lalu pulang dan kawan2 rapatku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.

Lalu ku lihat anak-anakku menangis di pangkuan isteriku, yang kecil berusaha menggapai jenazahku meminta aku bangun, namun isteriku menghalangnya. Isteriku pengsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat dia sebingung demikian. Lalu aku teringat betapa sering aku acuh tak acuh dengan panggilannya yg mengajakku berbual, aku selalu sibuk dengan hp ku, dengan kawan2 dan teman2 dunia mayaku. Lalu aku lihat anak2ku sering ku herdik &  ku bentak mereka saat aku sedang asyik dengan hpku, di saat mereka minta perhatian dariku.  Oh Tuhan....Maafkan aku.

Lalu aku melihat 7 hari selepas kematianku. Teman2 sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak lagi mendengar doa mereka untukku. Pihak office menggantiku dgn staf lain, teman2 dunia mayaku masih sibuk dengan perbualan di group, tanpa ada yang berbicara tentangku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di group mereka.

Namun, aku melihat isteriku masih pucat dan menangis, air matanya selalu menitis saat anak2ku bertanya di mana papa mereka? Aku melihat dia begitu longlai dan pucat, ke mana semangatmu isteriku? Oh Tuhan maafkan aku....

Hari ke 40 sejak aku tiada, teman2 FB ku lenyap secara drastik, semua sudah memutuskan hubungan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup. Bosku dan teman2 sekerja, tdk ada satu pun yang mengunjungi kuburku atau pun sekadar mengirimkan doa. Lalu kulihat keluargaku, isteriku sudah boleh tersenyum, tapi tatapannya masih kosong, anak2 kecilku masih asyik bertanya bila papa pulang. Anakku yang paling kecil adalah yang paling kusayang, masih selalu menungguku dijendela, menantikan kepulanganku.

Lalu 15 tahun berlalu,
kulihat isteriku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai kelihatan kedutan tua dan lelah di wajahnya. Dia tidak pernah lupa mengingatkan anak2 bahwa hari ini hari Jumaat, jangan lupa solat.

Lalu aku membaca tulisan di atas secebis kertas milik anak perempuanku malam semlm, dia menulis.... "Seandainya aku masih punya papa, pasti tidak akan ada laki2 yang berani tidak sopan denganku dan
aku tidak melihat mama sakit mencari nafkah seorang diri buat kami. Oh Tuhan.... Kenapa Kau ambil papaku, aku perlu papaku Ya Allah.." kertas itu basah karena titisan airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku....

Sampai bertahun2 anak2 dan isteriku pun masih terus mendoakanku agar aku sentiasa berbahagia di akhirat sana.

Kemudian, aku terbangun..... Oh Tuhan syukur... Ternyata aku cuma bermimpi....

Perlahan lahan aku pergi ke kamar anakku dan berlutut dekat tempat tidurnya. Aku masih lihat airmata di sudut matanya, kasihan, terlalu keras aku mengherdik mereka... "Anakku, papa sangat menyesal karena telah berlaku kasar padamu. “Anakku, aku mencintaimu... aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku”. Ku peluk anakku, ku cium pipi dan keningnya. Lalu kulihat isteriku yang sedang tertidur, isteriku yang sapaannya sering ku tak hirau ajakannya untuk  berbicara. Sering kali aku sengaja berpura2 tidak mendengarnya, bahkan pesan2 darinya sering aku anggap tak bermakna, maafkan aku isteriku, maafkan aku.

Air mataku tak dapat ku bendung lagi. Apakah kita menyedari bahwa jika kita mati esok pagi, jabatan di mana kita bekerja akan mudah mencari pengganti kita.  Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, malah ada rakan2 kita yg masih menceritakan kelemahan yang tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membicara  lagi, seolah2 aku tidak pernah wujud dalam group mereka.

Lalu aku rebahkan diri di samping isteriku, hpku masih terus bergetar, berpuluh2 notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak.. Aku matikan hpku dan aku pejamkan mata. Maaf....Bukan kalian yang akan membawaku ke syurga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi keluargaku....
Keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

FAMILY FIRST..

Friday, 29 January 2016

Birru Walidaini

Assalamualaikum
Pagi tadi saya dengar radio klasik dlm kereta....
Satu kisah yg terharu yg diceritakan oleh juruhebah perempuan radio tersebut..
Kisahnya begini ...
Ada seorang anak lelaki bawa ayahnya yg kena stroke akibat angin ahmar  ke kedai makan mamak yg terkenal utk makan tengahari. Ayahnya teringin sangat nak makan nasi beriani kat kedei tu. Masa tu orang ramai dan meja makan pun rapat2. Setelah diduduk ayahnya elok elok, anak lelaki tu pun pesan makanan lauk2 kari.
Setelah makanan sampai, ayahnya mula menyuap sendiri.
Maklumlah pesakit angin ahmar, dlm keadaan terketar2 menyuap makanan, banyaklah remah yg jatuh di baju, seluar, malah di muka ayahnya yg kelihatan agak comot. Kebanyakan orang dlm restoran tu semua pandang dan curi2 pandang, ada juga beberapa orang tunjuk muka geli dan jijik. Namun begitu anak lelaki tu tetap bantu ayahnya suapkan makanan dan minunan tanpa menghiraukan pandangan orang sekeliling. Setelah selesai  makan dipapahkan ayahnya ke singki untuk dibersihkan, disabunkan tangan, lapkan muka, dibersihkan baju dan seluar ayahnya dari remah makanan seterusnya dipimpin ke kereta yg parking di hadapan restoran. Setelah itu anak lelaki itu ke cashier utk jelaskan bayaran. Sebelum beredar, anak lelaki tersebut telah ditegur oleh seorang pakcik,
"Anak, tak ada barang yg tertinggal ke ?" Jawab anak lelaki tu , "ok semua pakcik, spec abah, ubat abah, handphone abah,  towel kecil abah, tongkat abah, semua saya sudah bawak masuk kereta.. tak ada yg tinggal..."
Pakcik tu berkata lagi, " Ada, kau ada tinggalkan kesan di hati orang2 yg perhatikan kau. Pertama, kesan dihati orang2 yg sebaya dengan pakcik, adakah anak2 kami akan berbuat baik seperti yang kamu lakukan terhadap ayah kamu. Kedua, kamu  telah tinggalkan kesan di hati anak2 muda yg sebaya kamu, mereka akan tanya diri sendiri, sanggupkah mereka buat dan melayan  mak atau ayah yg sakit dan uzur sepertimana yg kamu lakukan ini.
Pakcik lihat, pekerja2 restoran  mamak pun turut terharu, malah ada yg kesat airmata teringatkan mak dan ayah barangkali. Pakcik sangat bangga dgn kamu semoga Allah memberi Rahmat kpd kamu.."
Sahut anak lelaki tu, " Ye ke pakcik.. alhamdulillah, saya sayang abah saya... abah kena stroke... moga2 abah cepat  sembuh...."

Copy dari sebelah semoga memberi menafaat utk kita
[10:36 21/12/2015] Ran777: Apa rasanya kalau ibu/bapa sendiri yg hantar mesej berikut?

👪Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku jatuhkan cawan atau terlepas pinggan ditangan,
Aku berharap kamu tidak menjerit marah padaku,
Kerana tenaga orang tua sepertiku semakin tidak kuat dan kerana aku sakit.
Mataku semakin kabur. Kamu harus mengerti dan bersabar denganku.

😔Anakku...

Bila aku tua,
Andai tutur kata aku lambat dan aku tidak mampu mendengar apa yang kamu katakan,
Aku berharap kamu tidak menjerit pada aku,
"mak pekak ke?",
"mak bisu ke? "
"tak dengar ker??"..

Aku minta maaf anakku.
Aku semakin MENUA...

😟Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku asyik bertanya perkara yang sama berulang-ulang,
Aku berharap kamu tetap sabar mendengar dan melayanku sebagaimana aku sabar menjawab pertanyaanmu semasa kecil,
Semua itu adalah sebahagian dari proses MENUA.
Kamu akan mengerti nanti bila kamu semakin tua.

😣Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku berbau busuk, hamis dan kotor,
Aku berharap kamu tidak tutup hidung atau muntah didepan aku.
Dan tidak menjerit menyuruh aku mandi.
Badan aku lemah.
Aku tidak bermaya untuk lakukan sendiri.
Mandikanlah aku sepertimana aku memandikan kamu semasa kecil.

😷Anakku...

Bila aku tua,
sekiranya aku sakit, temanlah aku, aku ingin anakku berada bersamaku.

😭Anakku....
Bila aku tua dan waktu kematian aku sudah tiba, Aku berharap kamu akan memegang tanganku dan memberi kekuatan untuk aku menghadapi kematian.
Jangan cemas.
Jangan menangis.
Hadapi dengan redha.
Aku berjanji pada kamu.
Bila aku bertemu Allah.
Aku akan berbisik padaNya supaya sentiasa memberkati dan merahmati kamu kerana kamu sangat mencintai dan mentaatiku.

Terima kasih banyak2 kerana mencintai aku....

Terima kasih banyak2 kerana telah menjagaku...
Aku mencintai kamu lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri..

🔴Menjadi ikhtibar pd kita kalau masih ada ibubapa dn postlah posting diatas kpd WA group keluarga atau WA group peribadi keluarga sendiri sebab kite x nak kite atau anak2 kite sentiasa berdosa dgn ibubapa kite atau ibubapa mereka...
..........
RENUNG2 KAN LAH......
SESUNGGUHNYA KITALAH ANAK....DAN SAMPAI KETIKANYA NNTI KITALAH EMAK KITALAH AYAH PULA.....

Tuesday, 22 December 2015

Menjelang 2016

(2014) 31 Mei = 01 Syaaban
(2015) 31 Mei = 13 Syaaban
Duk kira masa tak bujang!. Apakah rahsia  anjakan tarikh hijrah dan masehi. Sedar tak sedar... setahun berlalu. Alhamdulillahh. Wahai Allah, syukur dan terimakasih untuk segala nikmat yang tidak terhitung yang telah Engkau kurniakan kepada diriku dan Keluargaku. Serta rakan2  yang lain.
Dah tak lama kita akan mengakhiri tahun 2015 dengan gembira bersama senarai kerja buat dan pencapaian kita sepanjang tahun. 
Kita akan menyambut Maulidur Rasul lagi 2 hari. Istimewanya Maulidur Rasul  bagi saya adalah kerana ianya bersamaan dengan hari kelahiran saya bulan masehi. saya sentiasa berdoa... moga2 aku mendapat syafaatmu Ya Rasullullah.
Rai kesyukuran hari ulang tahun untuk bulan masehi dan bulan hijrah ...apa salahnya. 
Ayuh! sama-sama perbanyakkan selawat. Sabda Nabi Muhammad  SAW " barangsiapa berselawat keatasku 1kali, nescaya Allah turunkan rahmat keatasnya 10kali ganda" .
* bergamba bersama rumet! Tetapi di pelamin orang! 

Thursday, 13 August 2015

Left-Handed

Happy International Left-Handed Day.

Tulisan bersepah.
Masa belaja dulu ada pensyarah tanya
"awak tulis guna kaki ker" .
Hehehehe.
Jangan terkezut jika saya dapat menulis
guna kanan dan kiri!

Thursday, 30 July 2015

Surah Taubah

Knp tidak pyh baca basmallah sblm surah attaubah?
➖➖➖➖➖➖➖
Pencerahan:

Di zaman saidina Osman radiallahu anhu  sahabat- sahabat mengumpulkan Al-Quran padahal mereka tidak menulis basmalah diantara surah Anfal dan surahTaubah kerana saidina Osman syak keberadaannya adakah surah taubah sebahagian dari surah Anfal atau berhubung  adakah dua surah itu bersekali atau dua surah yang berasingan.

Kerana itulah mereka tidak menulis dipertengahan dua surah itu dengan basmalah.

Kalau seseorang itu membaca surah Taubah dia hanya perlu berta'awuz sahaja.

Kalau dia membaca hubung dari surah Anfal sehingha surah taubah maka dia tidak perlu membaca ta'awuz lagi bahkan tak perlu membaca apa-apa.

Rangkap Akhir

RUMAH JAGA SEPARUH DARI HIDUP KAMI

Saya persembahkan satu lagi pengalaman sedih saya semasa menjadi pegawai pelajaran daerah utk tatapan kerana lebih ramai orang suka membaca pengalaman dari tulisan berbentuk ilmu semata. Ambillah iktibar. Bukakan hatimu.

Malam itu saya bersama pemandu membuat semakan ke sekolah-sekolah untuk menyelia kerja pengawal keselamatan sekolah. Beberapa sekolah disinggahi. Akhirnya saya sampai di satu sekolah kebangsaan yg dipinggir bandar.

Bila kenderaan kami berhenti di pintu pagar sekolah, saya turun. Seorang lelaki tua berunifom jaga yg saya jangka 60 an menegur saya. Saya cepat memperkenal diri dan minta memeriksa beberapa perkara. Dia seperti keberatan untuk membenarkan saya masuk ke pondok pengawal, tetapi bila diminta dia beralah.

Saya menolak pintu bilik pengawal untuk masuk. Pintu yg ditolak tertampan sesuatu, lalu saya menjengok ke dalam. Ya Allah,seorang remaja perempun belasan tahun sedang tidur beralas tikar rumput di lantai, berbantal lipatan kain. Tidurnya mengiring kerana kakinya kena dibengkok disebabkan bilik yg sempit. Begitu nyenyak dia hingga tidak sedar kakinya tertampan pintu.Kasut sekolah, beg dan unifom sekolah menengah diletak di tepinya.
Saya tidak menerus hajat untuk masuk dan mengajak orang tua itu berbual di luar. Dalam nada yg sedikit terketar, mungkin rasa bersalah, dia berkata, "Minta maaf encik, anak saya, menumpang tidur di pondok ini" Dia terhenti. Tutur kata perlahan dan tertib dan seperti menahan sebak. "Tak ada siapa di rumah, mak dia dah meninggal, anak-anak dah kawin dan pindah. Saya tinggai dua beranak. Saya kena kerja untuk belanja kami berdua dan cari duit sekolah anak perempuan bongsu saya tu. Kerja lain dah tak larat, kerja jaga ni bolehlah. Saya bimbang nak tinggalkan dia seorang di rumah. Minta maaf encik, minta maaf. "Air matanya mula tergenang di sinar lampu yg berbalam. Bahunya saya gosok utk menenangkannya. Saya pula yg serba salah dan sedih.

Dia terus merintih, "Hidup waktu malam kami di sinilah telah setahun lebih bila kerana saya kerja syif malam sebab rakan ada masalah nak kerja malam. Rumah jaga ni separuh dari hidup kami dua beranak. Esok pagi anak satu akan akan ke sekolah menengah dgn basikal, dia menumpang mandi di sekolah ini. Encik, tolong, jangan repot kat toke saya dan guru besar, saya takut kena buang kerja. Macam mana kami hidup. "Di sini dia dah teresak dan mengesat air mata dgn lengannya. Saya menepuk bahunya, menyuruhnya bersabar dan menjengok sekali lagi ke dalam pondok. Tangan anak itu saya lihat menampar nyamuk di pipi. Ya Allah, anak semuda ini telah diuji dgn kepayahan hidup. Sesungguhnya lelaki ini seorang yg tabah, hanya ini jalan hidup yg ada baginya. Saya dah tak sanggup mendengar kata-kata pak cik ini. Bila saya menaiki kenderaan, pemandu nampak kehairanan kerana beberapa sekolah yg dilalui saya bersungut itu ini, tapi kali ini diam dan mengesat air mata, tetapi dia tidak berani bersuara.

Pengorbanan seorang bapa hingga penghujung usianya, selagi kudrat masih ada, keringat diperah demi penyambung hidup anak. Bila isterinya dijemput Allah, apa pilihan lagi yg ada padanya demi sesuap nasi dan keselamatan anak dara suntinya. Jika anda pernah bersungut teruknya bekerja, susahnya hidup, ukurlah dgn orang tua ini. Jika anak anda besungut tilam nipis, lama,katil kecil, bilik panas tak ada aircond, ukurlah dgn anak dara orang tua ini yg bermalam di tikar rumput di lantai simen rumah jaga yg kakinya pun tidak boleh berlunjur. Jika anak anda bersungut bilik air tak selesa, sarapan tidak sedap, ukurlah dgn anak ini yg mandi di tandas sekolah, sarapan di mana yg sempat. Jika nak marah anak murid lewat ke sekolah, mengantuk dalam kelas, pakaian lusuh tidak diseterika, penampilan yg comot, mulut jangan cepat mengungkap kata yg tidak elok, ambil tahulah kisah hidup yg dilalui mereka.

Jika jd ketua, ambil tahu sedikit kisah hidup orang bawah, jangan tahu mengarah shj. Pejamkan mata, hayati keperitan hidup pak cik ini dan menangislah kerana banyak menangis melembutkan hati. ABD GHANI HARON.

Saturday, 18 July 2015

Raya Aidilfitri

Ucapan Terimakasih
kepada semua  yang
datang beraya.
Semua sedara mara
yang diingati dan dikasihi.
Teringat  pada zaman diri saya ketika
waktu kanak2.
Setiap kali hari raya waktu  Abah ada,
Abah akan paksa wajib untuk sesi
ziarah sedara mara. Walaupun pada ketika
itu, program tv tidak sebanyak sekarang.
Cuma sekarang  cabaran dia... semua orang layan henpon masing2.
Sibuk  update status  di alam maya.
Apapun impak daripada  paksa wajib Abah
yang diresap pada zaman kanak2....
Kita mengenali saudara mara kita. 
Saya amat bersyukur... silaturahim  masih teguh dan utuh.
Abah sudah pulang lama ke rahmatullah...
dalam segan sebab setahun sekali... saya wajibkan diri dan paksa adik2.... mari hidupkan ziarah.

Monday, 13 July 2015

Kuasa Bersedekah

Tazkirah Dr Jamnul Mulkan, bekas-Rumah Perak, Hayyu 7

AKAUN BANK SAIDINA OTHMAN

Adakah kamu mengetahui bahawa Saidina Othman ibnu Affan ada mbempunyai akaun bank di Saudi?Siapakah yang membina Hotel Othman Ibnu Affan di sebelah masjid Nabawi di Madinah? Adakah anak cucu nya yang membinanya dan meletakkan namanya sebagai nama hotel? Ikuti kisah ini :

Satu ketika di Madinah semasa Nabi SAW mula hijrah dari Mekah ada sebuah telaga yang sangat besar dan sangat dalam serta airnya tak pernah kering. Nama Telaga itu Bi'ru Rummah (Telaga Pemanah). Orang Islam ketika itu sangat berhajat kepada air dan sering ke telaga itu yg dimiliki oleh seorang Yahudi.
Maka Yahudi itu telah bertindak menjual air dengan harga yang sangat mahal.
Akhirnya perkara itu sampai ke pengetahuan Saidina Othman b Affan RA. Lantas Saidina Othman b Affan RA bertemu Yahudi itu dan minta nak beli telaga tersebut. 
Yahudi tak mahu jual sebab dia tahu dia untung besar. Saidina Othman b Affan RA akhirnya minta beli separuh saja telaga tu. Yahudi pun setuju. Bermakna sehari milik Yahudi dan sehari làgi milik Saidina Othman b Affan RA. Yahudi sangka dia cerdik sebab Saidina Othman b Affan RA memang peniaga yang glamour dikenali oleh orang Arab, menyangka perniagaannya akan lebih berkembang dan harga air boleh dinaikkan.
Rupa-rupanya Allah takdirkan sebaliknya bila orang tak lagi beli air daripada Yahudi itu sebab pada hari milik Saidina Othman b Affan RA dia beri orang-orang Islam dan bukan Islam air percuma. Jadi, hari giliran milik yahudi itu siapa pun tak nak beli.
Akhirnya Yahudi bankrap dan nak jual kepada Saidina Othman b Affan RA separuh bahagian lagi Telaga Rummah tu kepada Saidina Othman b Affan RA sebab dia dah rugi.
Saidina Othman b Affan RA beli dengan 20,000 dinar.
Kemudian dia waqafkan kepada orang Islam. Kemudian ada seorang sahabat lain yang juga hartawan minta nak beli telaga tu daripada Saidina Othman b Affan RA. Saidina Othman b Affan RA tanya berapa harga yang dia sanggup bayar?
Hartawan menjawab bahawa dia sanggup membayar 3 kali ganda harga yang dibeli oleh Saidina Othman b Affan RA. Saidina Othman b Affan RA tidak setuju dan bertanya lagi, berapa sanggup bayar?
Hartawan menjawab, 9 kali ganda harga yg dibeli Saidina Othman b Affan RA.
Saidina Othman b Affan RA masih tak setuju.
Hartawan bertanya kehairanan. Siapa lagikah yang sanggup membeli dengan harga yang lebih mahal daripadanya?
Maka Saidina Othman b Affan RA menjawab, "ALLAH".
Akhirnya orang Islam dapat minum air telaga itu secara percuma.
Dengan takdir Allah di tepi telaga itu akhirnya tumbuh beberapa pohon tamar dan akhirnya membiak sehingga  berjumlah 1550 pokok jumlahnya dan berbuah dengan sangat lebat.
Kerajaan Othmaniah Turki telah menjaga kurma itu dan hasil jualan tamar-tamar itu dan menyimpannya sehinggalah wujudnya kerajaan Saudi yang ambil alih dan tubuhkan akaun bank atas nama Saidina Othman b Affan RA di salah satu bank Saudi. Duit itu akhirnya terkumpul dengan banyak dan kerajaan Saudi telah membeli sekeping tanah di tepi Masjid Nabawi dengan tujuan membina hotel lima bintang. Hasilnya nanti dibahagi kepada dua. Separuh diinfaq untuk anak yatim dan miskin yang sebahagian lagi disimpan dalam akaun Saidina Othman b Affan RA. Yang anehnya, setelah 14 kurun, sedekah Saidina Othman b Affan RA bercambah dan membiak membuak buak tanpa hentinya. Inilah kelebihan Sedekah. Oleh itu, marilah sama sama kita ringan tangan untuk bersedekah dan yang paling mudah adalah dengan menyebarkan kisah ini dalam group dan fb anda. InshaaAllah, anda akan dapat pahala sedekah yang berganda-ganda.
MOGA-MOGA BERMANFAAT DUNIA AKHIRAT.
والله اعلم....

- DR JAMNUL AZHAR B MULKAN
Alor Setar

Saturday, 4 July 2015

Panjatkan Syukur

Minggu lepas...
pada 22 Jun 2015 bersamaan 5 Ramadhan  ( Hari Isnin) saya bersiap2 seperti biasa
untuk pergi berkerja.
Bangun awal pagi sebab nak bersahur.
Selesai solat subuh... siap2.  warm up enjin kereta.
Ikut jalan biasa.... dan macam biasa kereta2  sangat banyak di jalanan.
Okey... pandu dengan rilep. cool. senyum.

Sampai di parking entry.. ucap... "good moning kakak".... Kakak jaga parking.  rutin saya setiap kali nak masuk parking.
Kadang2 bila saya tanya " kakak apa khabar?"... Kakak tadi akan jawab . Alhamdulillahh! ... Saya kadang2 konpiuz... Kakak tadi bukan Muslim. tapi dia sangat  baik pada saya.
Saya telah pernah  pergi Deepavali kat umahnya di Gombak. Siap makan maruku. Makan nasik!... Rasanya kakak ni baik dengan semua pelanggannya. 

Pada 22 Jun tersebut, saya telah memohon cuti  untuk tempoh  3 bulan.
Sangka saya, selepas ke hospital  saya akan pulang semula ke tempat kerja. Sebab saya ingat hal kecemasan yang saya alami  untuk kelahiran Affnan Mumtaz  adalah perkara biasa. Doktor pun takder sebut2 bahawa kes saya adalah kes kecemasan kritikal. 

Alhamdulillahh  , Syukur  kepada Allah yg masih lagi memberi kehidupan  kepada saya.  Sedar2... saya di luar bilik bedah. 

Lepas ni saya nak tulis  pengalaman  di HKL. 

Nuzul Quran

Beranikah kita dengan 313 orang ingin berperang bertumpah darah dengan 950 orang? Sanggupkah kita ke medan dengan membawa 2 ekor kuda dan 70 ekor unta ketika musuh membawa 100 ekor kuda dan 170 ekor unta? Tidak gentar?

Today is the 17th of Ramadan, we remember those who were in the Battle of Badr.
1. Muhammad Rasulullah s.a.w.
2. Abu Bakar as-Shiddiq r.a.
3. Umar bin al-Khattab r.a.
4. Utsman bin Affan r.a.
5. Ali bin Abu Tholib r.a.
6. Talhah bin ‘Ubaidillah r.a.
7. Bilal bin Rabbah r.a.
8. Hamzah bin Abdul Muttolib r.a.
9. Abdullah bin Jahsyi r.a.
10. Al-Zubair bin al-Awwam r.a.
11. Mus’ab bin Umair bin Hasyim r.a.
12. Abdur Rahman bin ‘Auf r.a.
13. Abdullah bin Mas’ud r.a.
14. Sa’ad bin Abi Waqqas r.a.
15. Abu Kabsyah al-Faris r.a.
16. Anasah al-Habsyi r.a.
17. Zaid bin Harithah al-Kalbi r.a.
18. Marthad bin Abi Marthad al-Ghanawi r.a.
19. Abu Marthad al-Ghanawi r.a.
20. Al-Husain bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
21. ‘Ubaidah bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
22. Al-Tufail bin al-Harith bin Abdul Muttolib r.a.
23. Mistah bin Usasah bin ‘Ubbad bin Abdul Muttolib r.a.
24. Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah r.a.
25. Subaih (maula Abi ‘Asi bin Umaiyyah) r.a.
26. Salim (maula Abu Huzaifah) r.a.
27. Sinan bin Muhsin r.a.
28. ‘Ukasyah bin Muhsin r.a.
29. Sinan bin Abi Sinan r.a.
30. Abu Sinan bin Muhsin r.a.
31. Syuja’ bin Wahab r.a.
32. ‘Utbah bin Wahab r.a.
33. Yazid bin Ruqais r.a.
34. Muhriz bin Nadhlah r.a.
35. Rabi’ah bin Aksam r.a.
36. Thaqfu bin Amir r.a.
37. Malik bin Amir r.a.
38. Mudlij bin Amir r.a.
39. Abu Makhsyi Suwaid bin Makhsyi al-To’i r.a.
40. ‘Utbah bin Ghazwan r.a.
41. Khabbab (maula ‘Utbah bin Ghazwan) r.a.
42. Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhmi r.a.
43. Sa’ad al-Kalbi (maula Hathib) r.a.
44. Suwaibit bin Sa’ad bin Harmalah r.a.
45. Umair bin Abi Waqqas r.a.
46. Al-Miqdad bin ‘Amru r.a.
47. Mas’ud bin Rabi’ah r.a.
48. Zus Syimalain Amru bin Amru r.a.
49. Khabbab bin al-Arat al-Tamimi r.a.
50. Amir bin Fuhairah r.a.
51. Suhaib bin Sinan r.a.
52. Abu Salamah bin Abdul Asad r.a.
53. Syammas bin Uthman r.a.
54. Al-Arqam bin Abi al-Arqam r.a.
55. Ammar bin Yasir r.a.
56. Mu’attib bin ‘Auf al-Khuza’i r.a.
57. Zaid bin al-Khattab r.a.
58. Amru bin Suraqah r.a.
59. Abdullah bin Suraqah r.a.
60. Sa’id bin Zaid bin Amru r.a.
61. Mihja bin Akk (maula Umar bin al-Khattab) r.a.
62. Waqid bin Abdullah al-Tamimi r.a.
63. Khauli bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
64. Malik bin Abi Khauli al-Ijli r.a.
65. Amir bin Rabi’ah r.a.
66. Amir bin al-Bukair r.a.
67. Aqil bin al-Bukair r.a.
68. Khalid bin al-Bukair r.a.
69. Iyas bin al-Bukair r.a.
70. Uthman bin Maz’un r.a.
71. Qudamah bin Maz’un r.a.
72. Abdullah bin Maz’un r.a.
73. Al-Saib bin Uthman bin Maz’un r.a.
74. Ma’mar bin al-Harith r.a.
75. Khunais bin Huzafah r.a.
76. Abu Sabrah bin Abi Ruhm r.a.
77. Abdullah bin Makhramah r.a.
78. Abdullah bin Suhail bin Amru r.a.
79. Wahab bin Sa’ad bin Abi Sarah r.a.
80. Hatib bin Amru r.a.
81. Umair bin Auf r.a.
82. Sa’ad bin Khaulah r.a.
83. Abu Ubaidah Amir al-Jarah r.a.
84. Amru bin al-Harith r.a.
85. Suhail bin Wahab bin Rabi’ah r.a.
86. Safwan bin Wahab r.a.
87. Amru bin Abi Sarah bin Rabi’ah r.a.
88. Sa’ad bin Muaz r.a.
89. Amru bin Muaz r.a.
90. Al-Harith bin Aus r.a.
91. Al-Harith bin Anas r.a.
92. Sa’ad bin Zaid bin Malik r.a.
93. Salamah bin Salamah bin Waqsyi r.a.
94. ‘Ubbad bin Waqsyi r.a.
95. Salamah bin Thabit bin Waqsyi r.a.
96. Rafi’ bin Yazid bin Kurz r.a.
97. Al-Harith bin Khazamah bin ‘Adi r.a.
98. Muhammad bin Maslamah al-Khazraj r.a.
99. Salamah bin Aslam bin Harisy r.a.
100. Abul Haitham bin al-Tayyihan r.a.
101. ‘Ubaid bin Tayyihan r.a.
102. Abdullah bin Sahl r.a.
103. Qatadah bin Nu’man bin Zaid r.a.
104. Ubaid bin Aus r.a.
105. Nasr bin al-Harith bin ‘Abd r.a.
106. Mu’attib bin ‘Ubaid r.a.
107. Abdullah bin Tariq al-Ba’lawi r.a.
108. Mas’ud bin Sa’ad r.a.
109. Abu Absi Jabr bin Amru r.a.
110. Abu Burdah Hani’ bin Niyyar al-Ba’lawi r.a.
111. Asim bin Thabit bin Abi al-Aqlah r.a.
112. Mu’attib bin Qusyair bin Mulail r.a.
113. Abu Mulail bin al-Az’ar bin Zaid r.a.
114. Umair bin Mab’ad bin al-Az’ar r.a.
1
15. Sahl bin Hunaif bin Wahib r.a.
116. Abu Lubabah Basyir bin Abdul Munzir r.a.
117. Mubasyir bin Abdul Munzir r.a.
118. Rifa’ah bin Abdul Munzir r.a.
119. Sa’ad bin ‘Ubaid bin al-Nu’man r.a.
120. ‘Uwaim bin Sa’dah bin ‘Aisy r.a.
121. Rafi’ bin Anjadah r.a.
122. ‘Ubaidah bin Abi ‘Ubaid r.a.
123. Tha’labah bin Hatib r.a.
124. Unais bin Qatadah bin Rabi’ah r.a.
125. Ma’ni bin Adi al-Ba’lawi r.a.
126. Thabit bin Akhram al-Ba’lawi r.a.
127. Zaid bin Aslam bin Tha’labah al-Ba’lawi r.a.
128. Rib’ie bin Rafi’ al-Ba’lawi r.a.
129. Asim bin Adi al-Ba’lawi r.a.
130. Jubr bin ‘Atik r.a.
131. Malik bin Numailah al-Muzani r.a.
132. Al-Nu’man bin ‘Asr al-Ba’lawi r.a.
133. Abdullah bin Jubair r.a.
134. Asim bin Qais bin Thabit r.a.
135. Abu Dhayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
136. Abu Hayyah bin Thabit bin al-Nu’man r.a.
137. Salim bin Amir bin Thabit r.a.
138. Al-Harith bin al-Nu’man bin Umayyah r.a.
139. Khawwat bin Jubair bin al-Nu’man r.a.
140. Al-Munzir bin Muhammad bin ‘Uqbah r.a.
141. Abu ‘Uqail bin Abdullah bin Tha’labah r.a.
142. Sa’ad bin Khaithamah r.a.
143. Munzir bin Qudamah bin Arfajah r.a.
144. Tamim (maula Sa’ad bin Khaithamah) r.a.
145. Al-Harith bin Arfajah r.a.
146. Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair r.a.
147. Sa’ad bin al-Rabi’ bin Amru r.a.
148. Abdullah bin Rawahah r.a.
149. Khallad bin Suwaid bin Tha’labah r.a.
150. Basyir bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
151. Sima’ bin Sa’ad bin Tha’labah r.a.
152. Subai bin Qais bin ‘Isyah r.a.
153. ‘Ubbad bin Qais bin ‘Isyah r.a.
154. Abdullah bin Abbas r.a.
155. Yazid bin al-Harith bin Qais r.a.
156. Khubaib bin Isaf bin ‘Atabah r.a.
157. Abdullah bin Zaid bin Tha’labah r.a.
158. Huraith bin Zaid bin Tha’labah r.a.
159. Sufyan bin Bisyr bin Amru r.a.
160. Tamim bin Ya’ar bin Qais r.a.
161. Abdullah bin Umair r.a.
162. Zaid bin al-Marini bin Qais r.a.
163. Abdullah bin ‘Urfutah r.a.
164. Abdullah bin Rabi’ bin Qais r.a.
165. Abdullah bin Abdullah bin Ubai r.a.
166. Aus bin Khauli bin Abdullah r.a.
167. Zaid bin Wadi’ah bin Amru r.a.
168. ‘Uqbah bin Wahab bin Kaladah r.a.
169. Rifa’ah bin Amru bin Amru bin Zaid r.a.
170. Amir bin Salamah r.a.
171. Abu Khamishah Ma’bad bin Ubbad r.a.
172. Amir bin al-Bukair r.a.
173. Naufal bin Abdullah bin Nadhlah r.a.
174. ‘Utban bin Malik bin Amru bin al-Ajlan r.a.
175. ‘Ubadah bin al-Somit r.a.
176. Aus bin al-Somit r.a.
177. Al-Nu’man bin Malik bin Tha’labah r.a.
178. Thabit bin Huzal bin Amru bin Qarbus r.a.
179. Malik bin Dukhsyum bin Mirdhakhah r.a.
180. Al-Rabi’ bin Iyas bin Amru bin Ghanam r.a.
181. Waraqah bin Iyas bin Ghanam r.a.
182. Amru bin Iyas r.a.
183. Al-Mujazzar bin Ziyad bin Amru r.a.
184. ‘Ubadah bin al-Khasykhasy r.a.
185. Nahhab bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
186. Abdullah bin Tha’labah bin Khazamah r.a.
187. Utbah bin Rabi’ah bin Khalid r.a.
188. Abu Dujanah Sima’ bin Kharasyah r.a.
189. Al-Munzir bin Amru bin Khunais r.a.
190. Abu Usaid bin Malik bin Rabi’ah r.a.
191. Malik bin Mas’ud bin al-Badan r.a.
192. Abu Rabbihi bin Haqqi bin Aus r.a.
193. Ka’ab bin Humar al-Juhani r.a.
194. Dhamrah bin Amru r.a.
195. Ziyad bin Amru r.a.
196. Basbas bin Amru r.a.
197. Abdullah bin Amir al-Ba’lawi r.a.
198. Khirasy bin al-Shimmah bin Amru r.a.
199. Al-Hubab bin al-Munzir bin al-Jamuh r.a.
200. Umair bin al-Humam bin al-Jamuh r.a.
201. Tamim (maula Khirasy bin al-Shimmah) r.a.
202. Abdullah bin Amru bin Haram r.a.
203. Muaz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
204. Mu’awwiz bin Amru bin al-Jamuh r.a.
205. Khallad bin Amru bin al-Jamuh r.a.
206. ‘Uqbah bin Amir bin Nabi bin Zaid r.a.
207. Hubaib bin Aswad r.a.
208. Thabit bin al-Jiz’i r.a.
209. Umair bin al-Harith bin Labdah r.a.
210. Basyir bin al-Barra’ bin Ma’mur r.a.
211. Al-Tufail bin al-Nu’man bin Khansa’ r.a.
212. Sinan bin Saifi bin Sakhr bin Khansa’ r.a.
213. Abdullah bin al-Jaddi bin Qais r.a.
214. Atabah bin Abdullah bin Sakhr r.a.
215. Jabbar bin Umaiyah bin Sakhr r.a.
216. Kharijah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
217. Abdullah bin Humayyir al-Asyja’i r.a.
218. Yazid bin al-Munzir bin Sahr r.a.
219. Ma’qil bin al-Munzir bin Sahr r.a.
220. Abdullah bin al-Nu’man bin Baldumah r.a.
221. A
l-Dhahlak bin Harithah bin Zaid r.a.
222. Sawad bin Razni bin Zaid r.a.
223. Ma’bad bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
224. Abdullah bin Qais bin Sakhr bin Haram r.a.
225. Abdullah bin Abdi Manaf r.a.
226. Jabir bin Abdullah bin Riab r.a.
227. Khulaidah bin Qais bin al-Nu’man r.a.
228. An-Nu’man bin Yasar r.a.
229. Abu al-Munzir Yazid bin Amir r.a.
230. Qutbah bin Amir bin Hadidah r.a.
231. Sulaim bin Amru bin Hadidah r.a.
232. Antarah (maula Qutbah bin Amir) r.a.
233. Abbas bin Amir bin Adi r.a.
234. Abul Yasar Ka’ab bin Amru bin Abbad r.a.
235. Sahl bin Qais bin Abi Ka’ab bin al-Qais r.a.
236. Amru bin Talqi bin Zaid bin Umaiyah r.a.
237. Muaz bin Jabal bin Amru bin Aus r.a.
238. Qais bin Mihshan bin Khalid r.a.
239. Abu Khalid al-Harith bin Qais bin Khalid r.a.
240. Jubair bin Iyas bin Khalid r.a.
241. Abu Ubadah Sa’ad bin Uthman r.a.
242. ‘Uqbah bin Uthman bin Khaladah r.a.
243. Ubadah bin Qais bin Amir bin Khalid r.a.
244. As’ad bin Yazid bin al-Fakih r.a.
245. Al-Fakih bin Bisyr r.a.
246. Zakwan bin Abdu Qais bin Khaladah r.a.
247. Muaz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
248. Aiz bin Ma’ish bin Qais bin Khaladah r.a.
249. Mas’ud bin Qais bin Khaladah r.a.
250. Rifa’ah bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
251. Khallad bin Rafi’ bin al-Ajalan r.a.
252. Ubaid bin Yazid bin Amir bin al-Ajalan r.a.
253. Ziyad bin Lubaid bin Tha’labah r.a.
254. Khalid bin Qais bin al-Ajalan r.a.
255. Rujailah bin Tha’labah bin Khalid r.a.
256. Atiyyah bin Nuwairah bin Amir r.a.
257. Khalifah bin Adi bin Amru r.a.
258. Rafi’ bin al-Mu’alla bin Luzan r.a.
259. Abu Ayyub bin Khalid al-Ansari r.a.
260. Thabit bin Khalid bin al-Nu’man r.a.
261. ‘Umarah bin Hazmi bin Zaid r.a.
262. Suraqah bin Ka’ab bin Abdul Uzza r.a.
263. Suhail bin Rafi’ bin Abi Amru r.a.
264. Adi bin Abi al-Zaghba’ al-Juhani r.a.
265. Mas’ud bin Aus bin Zaid r.a.
266. Abu Khuzaimah bin Aus bin Zaid r.a.
267. Rafi’ bin al-Harith bin Sawad bin Zaid r.a.
268. Auf bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
269. Mu’awwaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
270. Muaz bin al-Harith bin Rifa’ah r.a.
271. An-Nu’man bin Amru bin Rifa’ah r.a.
272. Abdullah bin Qais bin Khalid r.a.
273. Wadi’ah bin Amru al-Juhani r.a.
274. Ishmah al-Asyja’i r.a.
275. Thabit bin Amru bin Zaid bin Adi r.a.
276. Sahl bin ‘Atik bin al-Nu’man r.a.
277. Tha’labah bin Amru bin Mihshan r.a.
278. Al-Harith bin al-Shimmah bin Amru r.a.
279. Ubai bin Ka’ab bin Qais r.a.
280. Anas bin Muaz bin Anas bin Qais r.a.
281. Aus bin Thabit bin al-Munzir bin Haram r.a.
282. Abu Syeikh bin Ubai bin Thabit r.a.
283. Abu Tolhah bin Zaid bin Sahl r.a.
284. Abu Syeikh Ubai bin Thabit r.a.
285. Harithah bin Suraqah bin al-Harith r.a.
286. Amru bin Tha’labah bin Wahb bin Adi r.a.
287. Salit bin Qais bin Amru bin ‘Atik r.a.
288. Abu Salit bin Usairah bin Amru r.a.
289. Thabit bin Khansa’ bin Amru bin Malik r.a.
290. Amir bin Umaiyyah bin Zaid r.a.
291. Muhriz bin Amir bin Malik r.a.
292. Sawad bin Ghaziyyah r.a.
293. Abu Zaid Qais bin Sakan r.a.
294. Abul A’war bin al-Harith bin Zalim r.a.
295. Sulaim bin Milhan r.a.
296. Haram bin Milhan r.a.
297. Qais bin Abi Sha’sha’ah r.a.
298. Abdullah bin Ka’ab bin Amru r.a.
299. ‘Ishmah al-Asadi r.a.
300. Abu Daud Umair bin Amir bin Malik r.a.
301. Suraqah bin Amru bin ‘Atiyyah r.a.
302. Qais bin Mukhallad bin Tha’labah r.a.
303. Al-Nu’man bin Abdi Amru bin Mas’ud r.a.
304. Al-Dhahhak bin Abdi Amru r.a.
305. Sulaim bin al-Harith bin Tha’labah r.a.
306. Jabir bin Khalid bin Mas’ud r.a.
307. Sa’ad bin Suhail bin Abdul Asyhal r.a.
308. Ka’ab bin Zaid bin Qais r.a.
309. Bujir bin Abi Bujir al-Abbasi r.a.
310. ‘Itban bin Malik bin Amru al-Ajalan r.a.
311. ‘Ismah bin al-Hushain bin Wabarah r.a.
312. Hilal bin al-Mu’alla al-Khazraj r.a.
313. Oleh bin Syuqrat r.a. (khadam Nabi s.a.w.)

Bermunajat kepada Allah SWT

 Seorang ahli ibadah yang bernama Abu bin Hasyim, seorang yang sentiasa solat sunat tahajud. Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah tinggal ...